Kalau kita ini mengikuti kehidupan petani, maka dapat pengalaman pertanian. Allah akan tampakkan manfaat-manfaat pertanian. Sehingga tambah hari kita tambah senang dan tambah yakin dengan pertanian.
Kalau kita sibuk dalam perdagangan, maka kita akan dapat pengalaman nikmatnya perdagangan. Allah akan tampakkan kepada kita manfaat-manfaat perdagangan. Sehingga tambah hari tambah senang dengan dagang, tambah yakin dengan perdagangan. Sehingga pikirannya kalau saya dagang, maka saya akan sukses, saya akan bahagia. Kalau saya tidak dagang, maka saya pasti miskin.
Begitu juga kalau orang yang sibuk dalam politik, mengejar kedudukan. Dia akan dapat pengalaman-pengalaman kelezatan jabatan. Sehingga tambah hari tambah senang dengan jabatannya. Kalau saya tidak jadi bupati, hancur saya.
Kalau orang itu sibuk dalam agama, di dalam jalannya Rasulullah SAW, maka nanti Allah akan tampakkan barokah-barokah agama. Allah akan berikan kepada dia kelezatan-kelezatan agama. Sehingga tambah hari tambah senang dengan agama, tambah yakin kepada agama, tambah cinta kepada Allah, tambah cinta kepada Rasulullah, tambah sayang kepada ummat.
Jadi keyakinan orang itu Allah jadikan sesuai dengan kesibukannya. Begitulah tertib Allah. Orang yang sibuk dengan dzikir, maka Allah tampakkan manfaat-manfaat dari dzikirnya. Sehingga tambah hari tambah senang dengan dzikir. Begitu juga kalau orang itu sibuk dakwah siang malam, maka Allah tampakkan manfaat-manfaat dari dzikirnya. Sehingga tambah hari tambah senang dengan dzikir. Begitu juga kalau orang itu sibuk dakwah siang malam, maka Allah tampakkan manfaat dakwah, kelezatan-kelezatan dakwah. Sehingga tambah hari tambah senang tambah yakin dengan dakwah.
Maka kalau orang sibuk dengan seluruh amalan-amalanRasulullah; dakwahnya, ngajinya, dzikirnya, maupun akhlaknya; maka nanti dia akan dapat pengalaman lengkap. Seperti orang menikmati makanan yang lezat karena bumbunya komplit. Begitulah sunnatullah, tertib Allah di muka bumi.
Maka kita di dunia ini adalah usaha bagaimana kita ini sibuk dalam perkara agama. Sibuk dalam kerja Rasulullah SAW. Maka nanti Allah akan tampakkan barokah-barokah dalam beragama. Sehingga nanti tambah hari kita tambah seneng dengan agama, tambah yakin dengan agama, yakinnya pada Allah tambah kuat.
Apa tanda yakin pada Allah makin kuat? Ulama mengatakan tanda bahwa keyakinan pada Allah tambah kuat adalah: tambah tua tambah rindu dengan akhirat. Kalau orang kondisi hatinya rindu kepada kematian, itu tanda hatinya sudah sehat betul. Coba kita bayangkan misalnya kita sekarang kedatangan tamu Malaikat Izrail. Kalau hati kita ini masih merasa keberatan, artinya hati kita ini belum sehat betul, masih sakit. Masih butuh diobati.
Kita ini punya penyakit tapi tidak merasa diri kita sakit. Berarti kita ini semua penyakitan? Lho, kok baru tau ! Coba kita test sebentar. Sate itu makanan lezat apa tidak? Kalau kita lagi tipes tetep lezat atau tidak? Diajak makan sate malah njawab, “Wah, loe mau nyiksa gue?”. Kalau sedang sehat, makan tidak perlu diajak. Berangkat sendiri gak ngajak-ngajak. Begitulah tanda kalau badan kita sedang sakit, makanan lezat pun terasa menyiksa.
Sekarang coba kita test lagi. Sholat lima waktu ke masjid itu ringan atau berat? Tahajud itu nikmat atau justru tidur kita merasa terganggu? Makanan paling lezat bagi orang yang jiwanya sehat adalah ibadah, yaitu sholat, puasa, sedekah, dzikir dan mengikuti seluruh amalan-amalan Rasulullah. Kalau hari ini kita sangat berat dalam beramal, amal terasa pahit, tidak enak dan terasa enggan; itu artinya jiwa kita sedang sakit.
Contohnya orang sehat jiwanya adalah para sahabat. Setiap habis sholat doa ingin mati syahid. Bukan minta panjang umur. Khalifah Sayyidina Umar RA ketika haji terakhir melihat orang Islam banyak berkumpul, Arofah penuh, Mekah penuh, Mina penuh. Maka beliau menangis dan berdoa kepada Allah, Yaa Allah ambillah nyawa saya sebelum saya jadi tua, jadi lemah sehingga saya tidak mampu untuk mengurus ummat ini, agar saya tidak mati dalam keadaan tidak mampu menunaikan kewajiban karena lemah.
Hari ini kita melihat itu aneh, penguasa terbesar di dunia pada zamannya, melihat rakyatnya begitu banyak dan negaranya begitu besar malah pengin mati. Begitu kalau orang hatinya sehat. Bandingkan dengan penguasa hari ini. Di kampung saya mau pilihan lurah malah ada tulisan: WEGAH GANTI LURAH. Artinya masih pengin terus berkuasa, tidak mau diganti.
Sayydina Utsman RA ketika mau dibunuh penjahat, maka beliau duduk membaca Qur’an, tiba-tiba ngantuk dan tertidur sebentar. Dalam tidurnya beliau mimpi berjumpa Rasulullah SAW. Waktu itu Sayyidina Utsman sedang berpuasa. “Utsman, kamu ingin saya doakan agar Allah jaga kamu supaya musuh-musuh kamu dihancurkan oleh Allah, ataukah kamu ingin berbuka puasa bersamaku di surga?” Begitu kata Rasulullah dalam mimpinya. “Yaa Rasulullah, saya memilih berbuka puasa denganmu saja.” Maka menjelang maghrib Sayyidina Utsman RA wafat. Begitulah kondisi hati para sahabat.
Sayyidatina Fatimah RA sangat sedih, menangis ketika Rasulullah SAW sedang sakit. Kemudian Rasullah berbisik kepadanya, tiba-tiba tertawa. Setelah wafatnya Rasulullah, Sayyidatina ‘Aisyah bertanya kepada Fatimah, “Mengapa waktu itu kamu menangis kemudian tiba tertawa?” Maka Fatimah menjawab, “Waktu itu saya dibisiki Rasulullah bahwa beliau akan mati dalam sakitnya itu, maka saya menangis. Kemudian Rasulullah mengatakan, kamu adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku, maka saya kemudian tertawa.”
Begitulah hati para sahabat, ketika diberitahu kamu akan segera mati justru merasa sangat gembira. Karena ingin sekali bertemu dengan Rasulullah. Bagaimana sahabat kayahati, apakah kita sudah seperti ini atau belum? Hampir ya? In syaa Allah.
Inilah makanya para ulama mengatakan, kalau hati kita belum seperti itu tandanya jiwa kita ini masih dalam kondisi sakit. Iman kita belum betul.
Serombongan sahabat dikirim dakwah yang dipimpin oleh Sahabat Abdullah bin Unais. Singkat cerita tugas mereka sukses. Unais berhasil membunuh Khalid bin Sufyan, pimpinan Suku Hudzail. Setelah pulang, Nabi mendapat laporan. Maka Nabi memanggil Unais kemudian diberi tongkat oleh Rasulllah. Maka Unais kemana-kemanamembawa tongkat itu. Sampai suatu ketika seorang sahabat bertanya, buat apa tongkat itu wahai Unais? Maka Unais pun kembali dan bertanya pada Rasulullah. “Ini sebagai tanda, agar aku tidak kesulitan mencarimu di Padang Mahsyar. Karena di Padang Mahsyar tidak banyak orang yang memakai tongkat,” kata Rasulullah. Maka sebelum wafat beliau berpesan agar tongkat itu dimasukkan ke kaffan dan ikut dikuburkan.
Kita tidak dikasih tongkat oleh Rasulullah, bagaimana caranya agar Rasullah tidak kesulitan mencari kita di Padang Mahsyar? Sesungguhnya “tongkat” yang ditinggalkan oleh Rasulullah adalah Qur’an dan Sunnahnya. Maka caranya adalah kita selalu berpegangan pada Qur’an dan Sunnahnya. In syaa Allah. Man ahya sunnati faqod ahabbani, waman ahabbani kaana ma’ifil jannah. Kalau kita berpegang pada sunnahnya, maka Rasulullah tidak perlu mencari kita, tapi Allah akan dekatkan kita dengan Rasulullah. Banyak baca shalawat. Orang yang paling dekat dengan Rasulullah adalah orang yang paling banyak sholawat kepadanya. Kemudian menjaga wudhu, karena Rasulullah akan mengenali ummatnya karena adanya bekas-bekas wudhu’. Wajahnya bercahaya, tangannya bercahaya. Maka kalau wudhu’ harus sempurna.
Suatu ketika ‘Aisyah bertanya pada Rasulullah, “Yaa Rasulullah, bagaimana besok cara saya mencari engkau di Padang Mahsyar?” Jawab Rasulullah, “Aku di Padang Mahsyar tidak akan lepas dari tiga tempat: Telaga Kautsar, Mizan atau di Shirath. Carilah aku di antara 3 tempat itu.” Semoga kita bisa bertemu juga. In syaa Allah.
Ini pertanyaan para sahabat, coba kita renungkan. Kalau istri kita kira-kira apa pertanyaannya? Papah, lagi di mana kok gak pulang-pulang? Bagaimana ini Pah, angsuran mobil bulan ini belum bisa bayar. Pertanyaannya seputar urusan dunia.
Tapi ada juga ummat Nabi yang datang ke telaga kautsar tapi dihalau oleh Malaikat. Maka Nabi mengatakan kepada Malaikat, ini ummatku juga kenapa tidak boleh minum? Maka Malaikat mengatakan, Wahai Rasulullah mereka memang ummatmu, tapi sepeninggalmu mereka ghoyyaru wabdalu, mereka sudah berubah, tidak ikut sunnahmu lagi. Maka mereka diusir dari Telaga Kautsar, suhqon..suhqon… Sana pergi jauh. Golek ngombe dewe kono, ojo melu-melu neng kene. Na’udzubillah.
Kita pegang kuat-kuat sunnahnya in syaa Allah. Nabi bersabda:
Taroktu fiikum maa in tamassaktum bihi – lan tadhilluu ba’diy abadaan – Kitaballahi wa sunnatiy
“Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu. Jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat sepeninggalku selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku” (Diriwayatkan Imam Malik dan yang lainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
Sahabat Kaya Kati,
Kita ini mau ke akhirat. Dan tidak ada jalan untuk keselamatan di akhirat selain jalannya Rasulullah SAW. Maka supaya kita bisa berjalan di jalannya Rasulullah bagaimana? Surat Yusuf ayat 108. Jalan Rasulullah adalah dakwah. Maka pertama kali kita harus mengambil keputusan bahwa dakwah adalah jalan hidup kita. Sebagaimana Rasulullah, menjadikah dakwah sebagai jalan hidupnya. In syaa Allah.
Jalan Rasulullah adalah dakwah. Kalau kita tidak dakwah berarti kita tidak melewati jalannya Rasulullah. Maka kita tidak akan sampai ke tujuan yang dituju oleh Rasulullah. Rasullah ke barat kita malah ke timur, salah jalan. Tidak ada seorangpun bisa sampai dengan selamat, kecuali melalui jalan ini. Karena di dunia ini sesungguhnya banyak sekali jalan yang kita temui.
Begitu juga kalau orang yang sibuk dalam politik, mengejar kedudukan. Dia akan dapat pengalaman-pengalaman kelezatan jabatan. Sehingga tambah hari tambah senang dengan jabatannya. Kalau saya tidak jadi bupati, hancur saya.
Kalau orang itu sibuk dalam agama, di dalam jalannya Rasulullah SAW, maka nanti Allah akan tampakkan barokah-barokah agama. Allah akan berikan kepada dia kelezatan-kelezatan agama. Sehingga tambah hari tambah senang dengan agama, tambah yakin kepada agama, tambah cinta kepada Allah, tambah cinta kepada Rasulullah, tambah sayang kepada ummat.
Jadi keyakinan orang itu Allah jadikan sesuai dengan kesibukannya. Begitulah tertib Allah. Orang yang sibuk dengan dzikir, maka Allah tampakkan manfaat-manfaat dari dzikirnya. Sehingga tambah hari tambah senang dengan dzikir. Begitu juga kalau orang itu sibuk dakwah siang malam, maka Allah tampakkan manfaat-manfaat dari dzikirnya. Sehingga tambah hari tambah senang dengan dzikir. Begitu juga kalau orang itu sibuk dakwah siang malam, maka Allah tampakkan manfaat dakwah, kelezatan-kelezatan dakwah. Sehingga tambah hari tambah senang tambah yakin dengan dakwah.
Maka kalau orang sibuk dengan seluruh amalan-amalanRasulullah; dakwahnya, ngajinya, dzikirnya, maupun akhlaknya; maka nanti dia akan dapat pengalaman lengkap. Seperti orang menikmati makanan yang lezat karena bumbunya komplit. Begitulah sunnatullah, tertib Allah di muka bumi.
Maka kita di dunia ini adalah usaha bagaimana kita ini sibuk dalam perkara agama. Sibuk dalam kerja Rasulullah SAW. Maka nanti Allah akan tampakkan barokah-barokah dalam beragama. Sehingga nanti tambah hari kita tambah seneng dengan agama, tambah yakin dengan agama, yakinnya pada Allah tambah kuat.
Apa tanda yakin pada Allah makin kuat? Ulama mengatakan tanda bahwa keyakinan pada Allah tambah kuat adalah: tambah tua tambah rindu dengan akhirat. Kalau orang kondisi hatinya rindu kepada kematian, itu tanda hatinya sudah sehat betul. Coba kita bayangkan misalnya kita sekarang kedatangan tamu Malaikat Izrail. Kalau hati kita ini masih merasa keberatan, artinya hati kita ini belum sehat betul, masih sakit. Masih butuh diobati.
Kita ini punya penyakit tapi tidak merasa diri kita sakit. Berarti kita ini semua penyakitan? Lho, kok baru tau ! Coba kita test sebentar. Sate itu makanan lezat apa tidak? Kalau kita lagi tipes tetep lezat atau tidak? Diajak makan sate malah njawab, “Wah, loe mau nyiksa gue?”. Kalau sedang sehat, makan tidak perlu diajak. Berangkat sendiri gak ngajak-ngajak. Begitulah tanda kalau badan kita sedang sakit, makanan lezat pun terasa menyiksa.
Sekarang coba kita test lagi. Sholat lima waktu ke masjid itu ringan atau berat? Tahajud itu nikmat atau justru tidur kita merasa terganggu? Makanan paling lezat bagi orang yang jiwanya sehat adalah ibadah, yaitu sholat, puasa, sedekah, dzikir dan mengikuti seluruh amalan-amalan Rasulullah. Kalau hari ini kita sangat berat dalam beramal, amal terasa pahit, tidak enak dan terasa enggan; itu artinya jiwa kita sedang sakit.
Contohnya orang sehat jiwanya adalah para sahabat. Setiap habis sholat doa ingin mati syahid. Bukan minta panjang umur. Khalifah Sayyidina Umar RA ketika haji terakhir melihat orang Islam banyak berkumpul, Arofah penuh, Mekah penuh, Mina penuh. Maka beliau menangis dan berdoa kepada Allah, Yaa Allah ambillah nyawa saya sebelum saya jadi tua, jadi lemah sehingga saya tidak mampu untuk mengurus ummat ini, agar saya tidak mati dalam keadaan tidak mampu menunaikan kewajiban karena lemah.
Hari ini kita melihat itu aneh, penguasa terbesar di dunia pada zamannya, melihat rakyatnya begitu banyak dan negaranya begitu besar malah pengin mati. Begitu kalau orang hatinya sehat. Bandingkan dengan penguasa hari ini. Di kampung saya mau pilihan lurah malah ada tulisan: WEGAH GANTI LURAH. Artinya masih pengin terus berkuasa, tidak mau diganti.
Sayydina Utsman RA ketika mau dibunuh penjahat, maka beliau duduk membaca Qur’an, tiba-tiba ngantuk dan tertidur sebentar. Dalam tidurnya beliau mimpi berjumpa Rasulullah SAW. Waktu itu Sayyidina Utsman sedang berpuasa. “Utsman, kamu ingin saya doakan agar Allah jaga kamu supaya musuh-musuh kamu dihancurkan oleh Allah, ataukah kamu ingin berbuka puasa bersamaku di surga?” Begitu kata Rasulullah dalam mimpinya. “Yaa Rasulullah, saya memilih berbuka puasa denganmu saja.” Maka menjelang maghrib Sayyidina Utsman RA wafat. Begitulah kondisi hati para sahabat.
Sayyidatina Fatimah RA sangat sedih, menangis ketika Rasulullah SAW sedang sakit. Kemudian Rasullah berbisik kepadanya, tiba-tiba tertawa. Setelah wafatnya Rasulullah, Sayyidatina ‘Aisyah bertanya kepada Fatimah, “Mengapa waktu itu kamu menangis kemudian tiba tertawa?” Maka Fatimah menjawab, “Waktu itu saya dibisiki Rasulullah bahwa beliau akan mati dalam sakitnya itu, maka saya menangis. Kemudian Rasulullah mengatakan, kamu adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku, maka saya kemudian tertawa.”
Begitulah hati para sahabat, ketika diberitahu kamu akan segera mati justru merasa sangat gembira. Karena ingin sekali bertemu dengan Rasulullah. Bagaimana sahabat kayahati, apakah kita sudah seperti ini atau belum? Hampir ya? In syaa Allah.
Inilah makanya para ulama mengatakan, kalau hati kita belum seperti itu tandanya jiwa kita ini masih dalam kondisi sakit. Iman kita belum betul.
Serombongan sahabat dikirim dakwah yang dipimpin oleh Sahabat Abdullah bin Unais. Singkat cerita tugas mereka sukses. Unais berhasil membunuh Khalid bin Sufyan, pimpinan Suku Hudzail. Setelah pulang, Nabi mendapat laporan. Maka Nabi memanggil Unais kemudian diberi tongkat oleh Rasulllah. Maka Unais kemana-kemanamembawa tongkat itu. Sampai suatu ketika seorang sahabat bertanya, buat apa tongkat itu wahai Unais? Maka Unais pun kembali dan bertanya pada Rasulullah. “Ini sebagai tanda, agar aku tidak kesulitan mencarimu di Padang Mahsyar. Karena di Padang Mahsyar tidak banyak orang yang memakai tongkat,” kata Rasulullah. Maka sebelum wafat beliau berpesan agar tongkat itu dimasukkan ke kaffan dan ikut dikuburkan.
Kita tidak dikasih tongkat oleh Rasulullah, bagaimana caranya agar Rasullah tidak kesulitan mencari kita di Padang Mahsyar? Sesungguhnya “tongkat” yang ditinggalkan oleh Rasulullah adalah Qur’an dan Sunnahnya. Maka caranya adalah kita selalu berpegangan pada Qur’an dan Sunnahnya. In syaa Allah. Man ahya sunnati faqod ahabbani, waman ahabbani kaana ma’ifil jannah. Kalau kita berpegang pada sunnahnya, maka Rasulullah tidak perlu mencari kita, tapi Allah akan dekatkan kita dengan Rasulullah. Banyak baca shalawat. Orang yang paling dekat dengan Rasulullah adalah orang yang paling banyak sholawat kepadanya. Kemudian menjaga wudhu, karena Rasulullah akan mengenali ummatnya karena adanya bekas-bekas wudhu’. Wajahnya bercahaya, tangannya bercahaya. Maka kalau wudhu’ harus sempurna.
Suatu ketika ‘Aisyah bertanya pada Rasulullah, “Yaa Rasulullah, bagaimana besok cara saya mencari engkau di Padang Mahsyar?” Jawab Rasulullah, “Aku di Padang Mahsyar tidak akan lepas dari tiga tempat: Telaga Kautsar, Mizan atau di Shirath. Carilah aku di antara 3 tempat itu.” Semoga kita bisa bertemu juga. In syaa Allah.
Ini pertanyaan para sahabat, coba kita renungkan. Kalau istri kita kira-kira apa pertanyaannya? Papah, lagi di mana kok gak pulang-pulang? Bagaimana ini Pah, angsuran mobil bulan ini belum bisa bayar. Pertanyaannya seputar urusan dunia.
Tapi ada juga ummat Nabi yang datang ke telaga kautsar tapi dihalau oleh Malaikat. Maka Nabi mengatakan kepada Malaikat, ini ummatku juga kenapa tidak boleh minum? Maka Malaikat mengatakan, Wahai Rasulullah mereka memang ummatmu, tapi sepeninggalmu mereka ghoyyaru wabdalu, mereka sudah berubah, tidak ikut sunnahmu lagi. Maka mereka diusir dari Telaga Kautsar, suhqon..suhqon… Sana pergi jauh. Golek ngombe dewe kono, ojo melu-melu neng kene. Na’udzubillah.
Kita pegang kuat-kuat sunnahnya in syaa Allah. Nabi bersabda:
Taroktu fiikum maa in tamassaktum bihi – lan tadhilluu ba’diy abadaan – Kitaballahi wa sunnatiy
“Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu. Jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat sepeninggalku selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku” (Diriwayatkan Imam Malik dan yang lainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
Sahabat Kaya Kati,
Kita ini mau ke akhirat. Dan tidak ada jalan untuk keselamatan di akhirat selain jalannya Rasulullah SAW. Maka supaya kita bisa berjalan di jalannya Rasulullah bagaimana? Surat Yusuf ayat 108. Jalan Rasulullah adalah dakwah. Maka pertama kali kita harus mengambil keputusan bahwa dakwah adalah jalan hidup kita. Sebagaimana Rasulullah, menjadikah dakwah sebagai jalan hidupnya. In syaa Allah.
Jalan Rasulullah adalah dakwah. Kalau kita tidak dakwah berarti kita tidak melewati jalannya Rasulullah. Maka kita tidak akan sampai ke tujuan yang dituju oleh Rasulullah. Rasullah ke barat kita malah ke timur, salah jalan. Tidak ada seorangpun bisa sampai dengan selamat, kecuali melalui jalan ini. Karena di dunia ini sesungguhnya banyak sekali jalan yang kita temui.
Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya diceritakan, suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca,
Wa anna hāżā ṣirāṭī mustaqīman fattabi'ụh, wa lā tattabi'us-subula fa tafarraqa bikum 'an sabīlih, dżālikum waṣṣākum bihī la'allakum tattaqụn.
‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.’ (Al An’am: 153)
Di dunia ini ada jalan ekonomi, politik, kekuasaan, dll. Jika kita mencari selamat dengan jalan-jalan lain, maka yang akan kita dapatkan bukan kebahagiaan tapi kecelakaan.
Jalan hidup Nabi adalah dakwah. Apa maksudnya dakwah adalah jalan hidup? Bukan 3 hari atau 4 bulan, tapi selagi kita masih hidup di dunia ini tidak boleh lepas dari dakwah. Kapanpun dan di manapun kita dakwah. Baru bisa dikatakan dakwah sebagai jalan hidup. Sampai sakaratul maut.
Am kuntum syuhadaa a idza hadhara ya’quuba al-mauutu
Idz qoola lii baniihi maa ta’buduuna min ba’diy?
Qaalu na’budu ilaahaka wa ilaaha aabaaika ibrohiima wa isma’iila waishaaqo
Ilaahan waahidan
Wa nanhnu lahuu muslimuuna. (Al Baqarah: 133)
Nabi Yakub ketika sakaratul maut mengumpulkan anak-anaknya, bertanya Nak setelah aku mati, siapa yang akan kamu sembah? Bukan tanya yang kamu makan apa? Maka sawah dul ndeso untuk mbarep, rumah ini untuk nomor dua, pabrik plastik untuk nomor tiga, bengkel motor untuk ragil. Nabi Ya’qub tidak bertanya apa yang akan dimakan anaknya. Karena selagi masih hidup namanya manusia kalau lapar pasti cari makan sendiri.
Maka ketika kita pun harus merencanakan begitu sebelum maut menjemput kita. Kalau perlu latihan mati, kumpulkan anak-anak, lalu kita berikan wasiat seperti Nabi Ya’qub. Mati adalah hal yang pasti akan kita jalani. Innaa haadzaa laa huwa haqqul yaqiin (Al-Waki’ah: 95). Maka kita harus punya rencana.
Kita punya rencana mau bangun rumah, beli mobil, nyunatke anak, mantu. Tapi rencana mau mati kok tidak kita pikirkan bagaimana. Saat bin Abi Waqosh punya kotak, isinya baju yang sudah kumal. Seorang bertanya baju apa itu baju kumal disimpan? Ini adalah baju yang dulu aku gunakan untuk jihad di Badar bersama Rasulullah. Maka saya wasiat kepada keluargaku kalau nanti saya mati agar dikafani dengan baju ini, agar bisa menjadi saksi. Saat Bin Abi Waqash adalah penakhluk Persia dan mengislamkan orang-orang Persia. Persia itu Iran dan sekitarnya itu.
Inilah pikiran orang-orang yang mau ke akhirat. Kita ini mau ke akhirat atau tidak Sahabat? Mboten nggih? Kita akan di dunia selama-selamanya. Ooooo.... ke akhirat juga ya. Maka Sahabat Kaya Hati, kalau kita mau ikut Rasulullah kita tidak boleh meninggalkan dakwah. Dakwah harus hidup betul dalam hati kita ini.
Oleh karena itu kalau kita ingin mengikuti jalannya Rasulullah, kita harus mengenal Rasulullah. Bagaimana caranya? Itulah pentingnya ta'lim. Kalau tidak taklim kita tidak akan mengenal Rasulullah. Kalau tidak kenal, bagaimana mau meniru Rasulullah? Kalau tidak ta'lim artinya kita tidak dapat nasihat Rasulullah. Tidak bisa meniru para sahabat.
Akhirnya kita ini lepas, seperti sapi yang lepas talinya. Kalau sapi lepas akan hilang, makan tanaman tetangga. Bisa ditabrak kereta api. Sebab ikatannya lepas. Nah, ikatan manusia adalah ta'lim. Kalau tidak mau taklim sama saja ikatan kita hilang.
Kita ini punya pimpinan Rasulullah tapi tidak mau tahu kehidupan Rasulullah, bagaimana kita bisa mengikuti jalannya? Kita dikasih oleh Allah contoh generasi yang diridhoi Allah yaitu para sahabat, tapi kita tidak pernah baca ceritanya bagaimana? Kita dikasih panutan orang-orang sholeh, para ulama setelah para tabi’ittabi’in tapi tidak pernah dibaca bagaimana? Oleh karena itu, ta'lim ini sangat-sangat penting.
Dalam ta'lim disampaikan ayat-ayat Qur’an, hadits Nabi, kisah sahabat, kisah para wali Allah dan orang-orang sholeh setelahnya. Kitabullah adalah surat Allah kepada kita. Dikirimi surat kalau tidak dibaca terus bagaimana? Maka dengan ta'lim kita ada semangat, ternyata walaupun orang itu tidak ketemu Rasulullah bisa jadi baik.
Dengan ta'lim kita jadi kenal Allah, kenal Rasulullah, kenal dengan para sahabat dan orang-orang sholeh yang bisa kita tiru dan ikuti. Kalau urusan agama, maka yang paling baik adalah yang paling awal. Kalau urusan dunia, maka yang paling baik adalah yang paling akhir. Agama itu seperti air, yang paling dekat dengan sumber itu yang paling murni, paling bersih. Kalau sudah sampai bawah, bisa saja tercampur dengan kotoran-kotoran.
Agama yang paling bagus adalah yang paling kuno, kalau mobil yang paling baru. Itu biasanya yang paling bagus. Kalau dunia berkembang menurut penelitian manusia, tambah hari tambah berkembang bahkan hukum bisa berganti-ganti.
‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.’ (Al An’am: 153)
Di dunia ini ada jalan ekonomi, politik, kekuasaan, dll. Jika kita mencari selamat dengan jalan-jalan lain, maka yang akan kita dapatkan bukan kebahagiaan tapi kecelakaan.
Jalan hidup Nabi adalah dakwah. Apa maksudnya dakwah adalah jalan hidup? Bukan 3 hari atau 4 bulan, tapi selagi kita masih hidup di dunia ini tidak boleh lepas dari dakwah. Kapanpun dan di manapun kita dakwah. Baru bisa dikatakan dakwah sebagai jalan hidup. Sampai sakaratul maut.
Am kuntum syuhadaa a idza hadhara ya’quuba al-mauutu
Idz qoola lii baniihi maa ta’buduuna min ba’diy?
Qaalu na’budu ilaahaka wa ilaaha aabaaika ibrohiima wa isma’iila waishaaqo
Ilaahan waahidan
Wa nanhnu lahuu muslimuuna. (Al Baqarah: 133)
Nabi Yakub ketika sakaratul maut mengumpulkan anak-anaknya, bertanya Nak setelah aku mati, siapa yang akan kamu sembah? Bukan tanya yang kamu makan apa? Maka sawah dul ndeso untuk mbarep, rumah ini untuk nomor dua, pabrik plastik untuk nomor tiga, bengkel motor untuk ragil. Nabi Ya’qub tidak bertanya apa yang akan dimakan anaknya. Karena selagi masih hidup namanya manusia kalau lapar pasti cari makan sendiri.
Maka ketika kita pun harus merencanakan begitu sebelum maut menjemput kita. Kalau perlu latihan mati, kumpulkan anak-anak, lalu kita berikan wasiat seperti Nabi Ya’qub. Mati adalah hal yang pasti akan kita jalani. Innaa haadzaa laa huwa haqqul yaqiin (Al-Waki’ah: 95). Maka kita harus punya rencana.
Kita punya rencana mau bangun rumah, beli mobil, nyunatke anak, mantu. Tapi rencana mau mati kok tidak kita pikirkan bagaimana. Saat bin Abi Waqosh punya kotak, isinya baju yang sudah kumal. Seorang bertanya baju apa itu baju kumal disimpan? Ini adalah baju yang dulu aku gunakan untuk jihad di Badar bersama Rasulullah. Maka saya wasiat kepada keluargaku kalau nanti saya mati agar dikafani dengan baju ini, agar bisa menjadi saksi. Saat Bin Abi Waqash adalah penakhluk Persia dan mengislamkan orang-orang Persia. Persia itu Iran dan sekitarnya itu.
Inilah pikiran orang-orang yang mau ke akhirat. Kita ini mau ke akhirat atau tidak Sahabat? Mboten nggih? Kita akan di dunia selama-selamanya. Ooooo.... ke akhirat juga ya. Maka Sahabat Kaya Hati, kalau kita mau ikut Rasulullah kita tidak boleh meninggalkan dakwah. Dakwah harus hidup betul dalam hati kita ini.
Oleh karena itu kalau kita ingin mengikuti jalannya Rasulullah, kita harus mengenal Rasulullah. Bagaimana caranya? Itulah pentingnya ta'lim. Kalau tidak taklim kita tidak akan mengenal Rasulullah. Kalau tidak kenal, bagaimana mau meniru Rasulullah? Kalau tidak ta'lim artinya kita tidak dapat nasihat Rasulullah. Tidak bisa meniru para sahabat.
Akhirnya kita ini lepas, seperti sapi yang lepas talinya. Kalau sapi lepas akan hilang, makan tanaman tetangga. Bisa ditabrak kereta api. Sebab ikatannya lepas. Nah, ikatan manusia adalah ta'lim. Kalau tidak mau taklim sama saja ikatan kita hilang.
Kita ini punya pimpinan Rasulullah tapi tidak mau tahu kehidupan Rasulullah, bagaimana kita bisa mengikuti jalannya? Kita dikasih oleh Allah contoh generasi yang diridhoi Allah yaitu para sahabat, tapi kita tidak pernah baca ceritanya bagaimana? Kita dikasih panutan orang-orang sholeh, para ulama setelah para tabi’ittabi’in tapi tidak pernah dibaca bagaimana? Oleh karena itu, ta'lim ini sangat-sangat penting.
Dalam ta'lim disampaikan ayat-ayat Qur’an, hadits Nabi, kisah sahabat, kisah para wali Allah dan orang-orang sholeh setelahnya. Kitabullah adalah surat Allah kepada kita. Dikirimi surat kalau tidak dibaca terus bagaimana? Maka dengan ta'lim kita ada semangat, ternyata walaupun orang itu tidak ketemu Rasulullah bisa jadi baik.
Dengan ta'lim kita jadi kenal Allah, kenal Rasulullah, kenal dengan para sahabat dan orang-orang sholeh yang bisa kita tiru dan ikuti. Kalau urusan agama, maka yang paling baik adalah yang paling awal. Kalau urusan dunia, maka yang paling baik adalah yang paling akhir. Agama itu seperti air, yang paling dekat dengan sumber itu yang paling murni, paling bersih. Kalau sudah sampai bawah, bisa saja tercampur dengan kotoran-kotoran.
Agama yang paling bagus adalah yang paling kuno, kalau mobil yang paling baru. Itu biasanya yang paling bagus. Kalau dunia berkembang menurut penelitian manusia, tambah hari tambah berkembang bahkan hukum bisa berganti-ganti.
Kalau ilmu agama adalah dari Allah yang dikabarkan oleh Rasulullah. Dan ini adalah kebenaran sejati yang tidak terbantahkan, ilmu paling sempurna dan tidak pernah berubah sampai hari kiamat. Maka ilmu ini seperti air, yang paling dekat dengan sumber itulah yang paling bersih. Maka kita harus mengikuti orang-orang yang paling dulu. Dakwah ikut orang-orang dulu, ta'lim ikut orang-orang dulu, ilmu ikut orang-orang dulu, ibadah juga ikut orang-orang dulu.
Begitulah sahabat kaya hati, ini kita sudah paham bahwa kita sedang menuju akhirat. Maka kita harus jadi orang pandai, mencari barang yang akan kita bawa. Bukan sibuk siang malam mencari barang yang akan kita tinggalkan. Semoga Allah mudahkan kita untuk mengikuti jalannya Nabi. Jalan yang lurus.
Begitulah sahabat kaya hati, ini kita sudah paham bahwa kita sedang menuju akhirat. Maka kita harus jadi orang pandai, mencari barang yang akan kita bawa. Bukan sibuk siang malam mencari barang yang akan kita tinggalkan. Semoga Allah mudahkan kita untuk mengikuti jalannya Nabi. Jalan yang lurus.
Wallahu a'lam bish-shawab.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar