Allah
telah membuat ketetapan. Dijadikan alam dunia ini darul asbab. Segala
sesuatu terjadi dengan sebab2.
Dalam perkara asbab ini ADA DUA JENIS
ASBAB, yaitu dhahiriah dan ghaibiyyah.
Yang dominan atas ketentuan2 yang
terjadi di alam ini bukan dhahiriyah tapi ghaibiyyah. Allah jadikan
asbab dhahiriyah ini sebagai ujian. Tapi yang benar yang harus kita
yakini adalah asbab ghaibiyyah. Orang2 yang hanya yakin dengan asbab
dhahiriyah, maka hidupnya akan tersesat, akan tertipu. Tidak akan
mencapai kesuksesan yang sebenarnya.
ALLAH MENGUTUS PARA NABI
UNTUK MEMBERITAHU PERKARA INI kepada manusia, bahwa kita ini jangan
yakin jangan terkesan dengan asbab dhahiriyah, tapi yakin dan terkesan
dengan asbab ghaibiyyah.
Asbab dhahiriyyah misalnya yang umum di
dunia ini misalnya kita sedang sakit, kita pergi ke dokter, minum obat
tujuannya untuk sembuh. Maka dalam perkara ini kadang Allah sembuhkan
kadang tidak. Walaupun datang kesembuhan kepada kita dengan minum obat,
dengan pergi ke dokter, ke rumah sakit, secara iman kita tidak boleh
yakin bahwa asbab kesembuhan dari dokter, obat atau rumah sakit. Ini
ujian saja, tapi kita harus tetep yakin bahwa yang menyembuhkan penyakit
kita ini adalah Allah SWT. Berdasarkan wahyu dari Allah bahwa yang
kuasa menyembuhkan penyakit ini bukan obat, bukan dokter, bukan rumah
sakit. Tapi adalah Allah SWT. Fa idza mariidh tu fahuwa yasfiih. (As
Syu’araa: 80). Dan Allah berkuasa menyembuhkan penyakit kita ini dengan
obat atau tanpa obat, dengan dokter atau tanpa dokter, melalui rumah
sakit atau tanpa rumah sakit. Kita harus yakin. Dalam segala perkara ini
ada asbab dhahiriyyah ada asbab ghibiyyah.
DALAM PERKARA RIZQI,
asbab dhahiriyyah yang diketahui manusia ini dia bekerja, berdagang,
bertani atau membuat usaha2 dhahiriyyah. PARA NABI MEMBERI TAHU bahwa
rizqi itu bukan dari toko tempat kita berdagang, bukan dari sawah ladang
tempat kita bertani, bukan dari kantor atau pabrik tempat kita bekerja.
Tapi rizqi adalah datang dari Allah.
Inilah dakwah dari para
Nabi. Berdasar wahyu dari Allah, diberi tahu oleh Allah bahwa yang
haqiqi adalah asbab ghaibiyyah, yang tidak nampak di mata. Para Nabi
mempunyai keyakinan yang kuat terhadap asbab ghaibiyyan ini. Sehingga
Nabi dikatakan oleh kaumnya sebagai orang gila, karena bertentangan
dengan keyakinan kaumnya ketika itu. Pada umumnya mereka hanya
terpengaruh, terkesan dan yakin dengan asbab dhahiriyyah.
Kalau
kita katakan rizqi itu dari Allah, mereka menjawab betul rizqi dari
Allah, tapi kalau kita tidak kerja bagaimana, tidak dagang bagaimana,
tidak ada usaha bagaimana? Sebab mereka sudah terpengaruh dengan asbab
dhahiriyah dari sejak kecil sudah dipengaruhi dan ini dianggap semacam
ilmu.
Kalau kita punya uang, ingin apa2 kita bisa beli dengan
uang itu. Baju bisa kita beli, makanan yang kita makan bisa kita beli.
Itu asbab dhahiriyyah. Nampaknya uang yang mendatangkan benda2 itu
kepada kita. Tapi secara haqiqi baju yang kita pakai adalah dari Allah,
makanan yang kita makan adalah dari Allah. Apa yang ada pada kita semua
dari Allah.
Sehingga Nabi Isa mengatakan SIKAP KITA KEPADA ALLAH
ITU SEPERTI SIKAP ANAK KECIL KEPADA BAPAKNYA. Jika anak kecil ditanya,
dari mana kamu dapat baju, dari bapak. Dari mana kamu makan, dikasih
bapak. Dari mana kamu pakai sepatu, dari bapak. Di mana kamu tinggal, di
rumah bapak. Nampaknya yang dia tahu apa2 hanya dari bapaknya.
Begitulah seharusnya sikap kita kepada Allah. Apa yang ada pada kita ini
semua dari Allah, baju dari Allah, makanan dari Allah, tempat tinggal
dari Allah. Demikian pula kalau anak kecil mengadakan perjalanan diajak
oleh ayahnya. Misal dari jakarta ke surabaya. Dia cerita sama kawannya,
saya besok diajak ayah ke surabaya. Kawannya bertanya, apa kamu punya
duit? Dia bilang uang dari ayah saya. bagaimana kamu beli tiket kereta
api? Ada ayah saya. Bagaimana kamu makan di sana, ada ayah saya. Kamu
belum pernah ke surabaya, bisa tersesat di jalan? Ada ayah saya. Anak
sangat yakin karena telah mengenal ayahnya. Begitulah sikap kita, harus
yakin sepenuhnya kepada Allah seperti itu. Bukan yakin kepada uang yang
ada pada kita, tapi yakin kepada Allah. Hapuskan keyakinan kepada asbab.
Ini di antara makna dari Laa ilaaha illallah. Tinggalkan keyakinan akan
asbab. Bukan meninggalkan asbab!
Yakin dengan asbab dhahiriyyah
ini adalah kejahilan. Kalau kita punya masalah, kita selesaikan dengan
asbab dhahiriyah saja, walaupun misalnya masalah itu terselesaikan, hal
ini merusak iman kita hadirin. Iman kita jadi rusak. Kalau kita sakit
langsung yakin hanya obat, dokter atau rumah sakit yang bisa
menyembuhkan. Tanpa meyakini asbab ghaibiyyah, maka iman kita menjadi
rusak. Lama2 kita akan yakin dengan asbab dhahiriyyah tadi, penyakit
sembuh karena obat, bisa kenyang karena makanan, uang bisa menyelesaikan
masalah dll.
Demikian hadirin, pada umumnya begitulah keyakinan
manusia di dunia. Jangankan orang kafir, orang islam pun tidak sedikit
pula memiliki keyakinan yang salah. Tidak yakin dengan asbab ghaibiyyah,
tapi lebih yakin dengan yang dhahir. Inilah yang akan menimbulkan
masalah, akan mendatangkan kesusahan dunia, terlebih lagi di akhirat.
Karena kalau seorang mati, yang pertama ditanya Allah adalah tentang
keyakinannya. Man robbuka? Siapa Tuhan kamu, siapa yang memelihara kamu,
siapa yang memberi rizqi kepadamu, siapa yang menyembuhkan ketika kamu
sakit? Makna dari Man Rabbuka itu luas.
Jika orang tidak kenal dengan
Allah, hanya yakin dengan asbab2 dhahiriyyah, dia tidak akan bisa
menjawab pertanyaan ini hadirin. Maka dakwah para Nabi terutama adalah
mengenalkan kepada Allah yang ghaib. Dan mengenalkan ketetapan2 Allah
yang ghaib. Supaya manusia yakin.
Para nabi memberitahu kepada
kita demikian juga Rasulullah SAW bahwa yang benar masalah dapat
terselesaikan dengan asbab ghaibiyyah. Asbab ghaibiyyah disebut asbab
agama. Asbabuddiin. Kalau kita amalkan agama menjadi asbab menyelesaikan
segala masalah.
PARA ULAMA MEMBAGI ASBAB INI MENJADI 3. Yang pertama
asbab dhulumat, asbab gelap. Kalau kita sakit, kita beli obat atau ke
dokter. Hasilnya tidak pasti, mungkin sembuh mungkin juga tidak. Kalau
kita mau dapat rizqi kita dagang, tani, kerja, ini juga asbab dhulumat,
asbab gelap. Tidak pasti. Kita lihat kenyataan sehari2, tidak pasti
orang dagang dapat rizqi. Ada juga yang rugi. Tidak pasti dengan tani
bisa panen, ada juga yang gagal. Tidak pasti dengan kerja dapat gaji,
ada juga yang ditipu, tidak dibayar gajinya. Maka itu semua disebut
asbab gelap, asbab dhulumat.
Yang kedua disebut asbab fitrah.
Asbab fitrah itu lebih kuat dari asbab gelap. Misal sudah fitrahnya api
itu bisa membakar. Sudah fitrahnya pisau itu bisa memotong. Tetapi ini
juga tidak pasti, Allah juga masih bisa ubah. Bisa jadi api tidak bisa
membakar, bisa jadi pisau tidak bisa memotong, Allah bisa mengubah. Jadi
tidak pasti.
Yang pasti adalah asbab agama. Barang siapa
menjalankan agama pasti Allah akan datangkan kehidupan yang baik
kepadanya dunia dan akhirat. Walaupun Allah berkuasa tidak ada yang bisa
melarang, kalau seandainya orang yang mengembangkan agama Allah bisa
saja Allah susahkan hidupnya di dunia dan di akhirat. Tapi Allah
berjanji tidak akan merubah ini hadirin yang mulia. Pasti janji Allah,
orang yang mengamalkan agama Allah akan datangkan kehidupan yang baik,
dunianya dan akhiratnya. Man ‘amila sholihan min dzakarin aw untsa,
wahuwa mu’minun, falan nuhziyannahu hayatan thoyyibah (An-Nahl 97).
TAPI
HARI INI KITA SEPERTI ORANG JAHILIYYAH YANG YAKIN DENGAN ASBAB2 YANG
GELAP DAN TIDAK PASTI. Mengapa tidak menempuh asbab yang pasti? Inilah
kejahilan kita manusia sekarang ini. Tidak mau menempuh asbab yang
pasti. Tidak yakin bahwa dengan agama hidup kita bisa bahagia dunia dan
akhirat. Bahkan begitu jahil ummat hari ini, mereka berfikir kalau
mengamalkan agama akan membuat sengsara. Sekolah tinggi2 dapat gelar
banyak, tapi jahil karena tidak yakin dengan agama. Tidak yakin dengan
Allah. Kalau diceritakan kepada kita bagaimana Allah menolong Nabi Musa
dengan asbab tongkat saja. Tongkat itu mungkin dari bambu, mungkin dari
kayu. Artinya benda mati. Tapi dengan asbab tongkat itu Nabi Musa bisa
hancurkan Fir'aun dengan tentaranya. Hari ini ketika kita ceritakan
kebenaran kabar dari Allah dalam Al Qur'an itu, mereka bilang itu tidak
akan bisa terjadi di zaman sekarang. Tidak bisa.
Banyak bukti
hari ini. Tanggal 11 november 1945, di surabaya. Arek2 surabaya, kita
memproklamirkan kemerdekaan waktu itu. Datang tentara sekutu, yaitu
Inggris mau merebut kembali Indonesia supaya di bawah jajahan dia. Maka
rakyat di bawah kepemimpinan Bung Tomo dengan senjata bambu runcing
melawan tentara sekutu yang memiliki pesawat, senjata mesin. Tapi dengan
keyakinan kepada Allah. Kalau menurut logika bagaimana mau menang,
bambu melawan pesawat dari udara. Bagaimana kalau kita tidak yakin
dengan bukti2 di negeri kita sendiri. Jadi banyak bukti2, bahwa
pertolongan Allah bukan hanya kepada orang dulu2 saja. Orang sekarang
pun sampai besok hari kiamat, kalau dia amalkan agama pasti ditolong
oleh Allah.
PARA NABI MEMBERI TAHU PERKARA INI, SUPAYA MANUSIA
ITU JANGAN BINASA, JANGAN CELAKA, JANGAN TERSIKSA DI AKHIRAT NANTI.
Betulkan yakinnya, jauhkan keyakinan dari asbab2 dhahir ini. Itu ujian
dari Allah. Orang berpikir kalau punya banyak uang jadi orang kaya,
hidup akan senang, akan mulia. Ini pendapat yang keliru. Dalam Al Qur'an
Allah ceritakan bagaimana kayanya Qorun, yang bahkan kunci dari
kekayaannya saja tidak kuat dipikul oleh 7 orang terkuat pada masanya.
Tapi nyatanya hidupnya sudah dan gagal. Sekarang pun banyak orang kaya
berkuasa, hartanya banyak tapi hidupnya penuh masalah. Lebih susah
daripada yang miskin. Karena keyakinannya salah.
Buang jauh keyakinan
terhadap asbab dhahiriyyah. Bahwa asbab yang benar adalah agama. Kalau
kita amalkan agama, taati Allah, maka Allah akan datangkan kehidupan
yang baik kepada kita. Dunia kita dan akhirat kita.
Memang
hadirin, dengan agama tidak langsung bisa ada uang yang jatuh dari
langit misalnya. Tapi secara ghaibiyyah Allah selesaikan masalah2 kita.
Allah berkuasa menyelesaikan masalah. Kadang melalui duit, kadang tanpa
duit.
Suatu ketika Siti Fatimah mengalami sakit yang kebiasaan
secara dhahiriyyah bisa disembuhkan dengan delima. Maka suami Fatimah,
Sayyidina Ali mencari delima dengan susah payah karena memang musim
sudah lewat. Meski akhirnya dapat juga satu. Setelah mencari susah payah
kesana kemari, begitu pulang Ali bertemu dengan seorang perempuan tua
yang mempunyai penyakit yang sama dengan Fatimah. Perempuan tua itu
meminta delima itu. Ali yang memang terkenal dermawan lebih mendahulukan
agama, karena kalau ada orang yang meminta itu dikasih. Ali pulang ke
rumah dengan tangan kosong. Maka Ali ceritakan semua kepada Fatimah
seraya meminta ma'af. Tapi apa kata Fatimah? Alhamdulillah Allah telah
sembuhkan penyakitku karena asbab sedekahmu wahai suamiku. Itu agama.
Dengan amal Allah sembuhkan penyakit. Kekuatan amal menyembuhkan
penyakit lebih kuat daripada obat dan dokter.
Sekarang kalau kita
punya duit untuk menyembuhkan penyakit kita dengan obat dan dokter.
Andaikata itu uang buat beli obat buat bayar dokter disedekahkan,
walaupun tidak sebesar harga obat atau bayar dokter, maka penyakit akan
lebih cepat sembuh daripada kita minum obat atau pergi ke dokter. Sebab
sedekah itu sifat untuk penyembuhan penyakit. Ini Allah yang memberi
tahu melalui NabiNya.
Kalau orang hari ini yakin terhadap
perkara2 yang ditetapkan Allah, maka hidup ini menjadi mudah. Tapi kalau
kita yakinnya dengan uang, masalah gampang jadi susah. Hukuman dari
Allah karena yakin dengan uang. Karena yakin kita salah, kerja keras
untuk mendapat uang banyak, tanpa keyakinan kepada Allah, akhirnya tidak
ada barokah dalam keluarganya.
Satu2nya jalan untuk memperbaiki
kehidupan ini, baik dunia maupun akhirat adalah agama. Tidak dengan cara
lain. Kalau kita abaikan agama, walaupun kita maju dalam bidang2 lain,
kehidupan yang baik tidak akan datang kepada kita. Allah telah contohkan
di Qur'an. Kaum saba' maju dalam bidang pertanian, subur makmur panen
luar biasa tapi karena tidak mengamalkan agama dan merasa sombong
menganggap keberhasilan dalam bidang pertanian karena kepandaian mereka.
Maka Allah hancurkan mereka. Kaum Tsamud maju dalam pembangunan,
infrastruktur sangat maju, tapi karena tidak mengamalkan agama, maka
Allah hancurkan. Kaum madyan maju dalam bidang perdagangan, tapi karena
tidak mau mengamalkan agama, maka Allah hancurkan. Kaum ‘Aad maju dalam
kesehatan dan kekuatan jasad, tapi tidak mau mengamalkan agama maka
Allah hancurkan.
Jika kita baca Qur'an dan renungi. Sekarang
banyak orang sibuk dagang maju dalam dagang, agama ditinggalkan. Sibuk
dalam pertanian, pertanian maju agama ditinggalkan. Sibuk membangun
sarana2 kemajuan ekonomi, agama ditinggalkan. Ini orang2 yang rugi.
Karena jauh dari agama, maka Allah akan hancurkan.
Ketetapan
dari Allah, kalau masyarakat itu taat kepada Allah maka akan didatangkan
keadaan yang baik. Kalau masyarakat beriman dan beramal sholeh, Allah
akan datangkan keadaan yang baik. Man 'amila ṣāliḥam min żakarin au unṡā
wa huwa mu`minun fa lanuḥyiyannahụ ḥayātan ṭayyibah, wa lanajziyannahum
ajrahum bi`aḥsani mā kānụ ya'malụn. (An Nahl: 97). Barangsiapa yang
mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang
baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala
yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Walau anna
ahla al-qura ammanu wattaqau lafatahna 'alaihim barakat[in] mi as-sama'i
wa al-ardhi (Al-A'raf: 96). Kalau saja penduduk negeri itu beriman dan
bertakwa, pasti Kami bukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan
bumi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar